Rabu, 19 Oktober 2011

Seminar setengah hari dengan tema : 'Terorisme dan Antisipasi ke depan'

Jakarta, 15 September 2009, seminar AMPRI yang dilaksanakan di Hotel Sahid Jaya ini berlangsung sukses, dihadiri sekitar 48 peserta yang berasal dari para pengelola gedung di Jakarta, mengetengahkan pembicara utama Kombespol DR. Chrysnanda Dwilaksana, yang memaparkan tentang terorisme khususnya di Indonesia. Pembicara lain adalah Barayani Muskita, seorang direksi dari perusahan konsultan security di Indonesia. Baik Pak Chrys maupun pak Bara menyajikan paparan sangat baik dan banyak memberikan pengetahuan kepada para peserta seminar ini.
Seminar ditutup dengan pembicara terakhir yaitu Erwin Mardian, seorang praktisi di bidang properti manajemen, yang membagi pengelamannya kepada rekan2 sesama profesi. Acara diakhiri dengan berbuka puasa bersama mengingat memang seminar ini diselanggarakan bertepatan dengan bulan Ramadhan.
Berikut adalah kesimpulan dari hasil seminar setangah hari Terorisme dan Antisipasi ke depan :
1.       Mempersiapkan Crisis Mangement Team dan Contigency Plan
2.       Review of Guards/ SOP, Update SOP dan Implementasikan dengan baik
3.       Berani melawan dan jangan takut terhadap Terorisa
4.       Mengenal dengan baik sesame karyawan untuk menghindari penyusupan
5.       Awareness yang tinggi bagi semua pihak
6.       Mengundang pihak POLDA untuk memberikan training atau penataran
7.       Jangan terlalu termakan media, karena bisa menjadi alat propaganda (harus diterima secara proporsional)
8.       Bekerjasama, berkordinasi, dan komunikasi dari tingkat propinsi  sampai RT
9.       Membangun image positif atas keamanan, kenyamanan dan bersahabat
10.      Perlu dukungan Top Management (stake holder)
Demikian liputan, kami menunggu partisipasi rekan-rekan lain yang belum bisa hadir di acara ini untuk bergabung di acara AMPRI yang akan datang. dd
  

Peran Penting Jasa Manajemen Properti

Booming pasar properti di tanah air telah membuka peluang usaha disektor yang sama. Salah satunya adalah usaha manajemen properti. Kota Jakarta seperti misalnya, dengan ”hutan belantara” gedung-gedung tinggi, sudah barang tentu merupakan pasar yang cukup menggiurkan bagi para perusahaan manajemen properti. Apa sesungguhnya manajemen properti ? Dan sejauh mana ruang lingkup bisnisnya ?
Iklim perekonomian yang kondusif begitu memudahkan para pengembang mendirikan bangunan gedung perkantoran. Maklum saja. Sebab dana murah dan mudah didapatkan, sementara permintaan pasokan ruang perkatoran terus meningkat. Maka, klop sudah bila kota Jakarta kini kian rimbun dengan berdirinya gedung-gedung tinggi di berbagai kawasan. Tetapi dibalik ini semua sudah barang tentu melahirkan kebutuhan akan perusahaan jasa manajemen properti. Tanpa kehadiran mereka, sangat boleh jadi kemegahan gedung–gedung pencakar pencakar langit ini tidak akan terurus, lantas berkurang value-nya.

Bisnis Manajemen Properti Tumbuh Rp1 Triliun

Jakarta (ANTARA News) - Bisnis manajemen properti diperkirakan tumbuh Rp 1 triliun pada tahun 2008 seiring masih meningkatnya pertumbuhan gedung-gedung bertingkat di kota-kota besar di Indonesia.


"Kalau dilihat dari pertumbuhan gedung-gedung bertingkat di kota-kota besar bisa mencapai 20-30 persen. Dari potensi itu, sekitar 60 persen merupakan pangsa pasar bisnis konsultan properti," kata Ketua Asosiasi Perawatan Bangunan Indonesia (APBI) Dharma Syahrial Pohan di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan, walau situasi ekonomi masih dibayangi harga minyak dunia yang belum stabil, tapi pertumbuhan apartemen dan gedung bertingkat masih tinggi. "Hanya saja untuk pembangunan gedung-gedung pemerintah sedikit mengalami mandek," katanya.

Bisnis konsultan atau manajemen properti sendiri, kata Dharma, terbagi menjadi beberapa bagian, diantaranya, manajemen "tenancy" (penyewaan), sistem parkir, manajemen gedung, perawatan serta manajemen keamanan.

Secara Terpisah, General Manager Marketing Sandhy Putra Makmur (SPM), salah satu perusahaan manajemen properti, Iman Anugrahanto mengungkapkan, dalam kurun waktu 11 tahun, perusahaannya berhasil mencetak pertumbuhan pendapatan bisnis manajemen properti rata-rata 21,21 persen per tahun.

"Pencapaian angka pertumbuhan pendapatan tersebut dimungkinkan karena selama 11 tahun, yakni sejak 1996 - 2007 pertumbuhan usaha perusahaan yang didirikan oleh Yayasan Sandhykara Putra Telkom (YSPT) ini tidak pernah negatif," kata Iman Anugrahanto.

Pertumbuhan usaha perusahaan manajemen properti yang didirikan oleh yayasan istri karyawan PT Telkom itu terbilang progresif. Bahkan, ditambahkannya, tahun 2008 pihaknya, memproyeksikan pendapatan SPM meningkat cukup signifikan yakni menjadi Rp321,4 miliar dari Rp246,32 miliar pada tahun 2007.

Iman menjelaskan pada 1996 pendapatan perusahaan baru Rp29,7 miliar, kemudian meningkat menjadi Rp37,8 miliar pada 1997. Peningkatan pendapatan luar biasa, kata Iman, terjadi dalam enam tahun terakhir, ketika pendapatan menembus Rp100 miliar. Persisnya, tahun 2002 pendapatan perusahaan jasa pengelolaan gedung ini telah mencapai Rp100,15 miliar.

Tahun berikutnya (2003) meningkat menjadi Rp115,75 miliar. Pada 2004, melonjak menjadi 126,05 miliar, lalu 161,12 miliar (2005), Rp181,12 miliar (2006) dan Rp246,32 miliar pada 2007.

Iman juga menjelaskan, pertumbuhan SDM perusahaan juga tumbuh pesat, seiring dengan pertumbuhan pendapatan. Tahun 1996 jumlah karyawan perusahaan tercatat 4.528 orang, namun pada 2007 berkembang signifikan menjadi 12.033 orang.

"Hal ini berarti SDM perusahaan kami tumbuh 266 persen. Kontribusi karyawan terhadap pendapatan juga meningkat 306 persen, ketika pada 1996 per SDM baru menyumbang Rp6,4 juta, namun pada 2007 telah mencapai Rp19,8 juta," katanya.

Terkait dengan perkembangan aset, Iman menyatakan pertumbuhan aset perusahaan berjalan lurus dengan pertumbuhan pendapatan. Pada 1996 total aset hanya Rp12,7 miliar, tetapi pada 2007 telah mencapai Rp75,4 miliar.

SPM merupakan perusahaan pertama di Indonesia yang memenuhi layanan standar internasional (sertifikat ISO 9002-ISO 9001-2000).

Khusus untuk usaha pengamanan bandar udara, menurut dia, SPM telah menerapkan standar penerbangan internasional (Standard Aviation USA) di Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Soal tren isu lingkungan, Iman mengatakan, SPM juga telah meraih Health, enviroment & Safety [HES] Quality Management System (sistem manajemen kualitas, keselamatan dan linkungan) pada 2007.(*)

sumber : http://www.antaranews.com/print/1217594493